Platform messaging yang berbasis di Jepang Line, melaporkan kerugian besar pada Q3-2018. Perusahaan tak kuasa mencegah kerugian, karena pendapatan dalam bisnis pesan intinya merosot dan pertumbuhan pengguna di luar negeri terus anjlok.

Advertisement

Dalam laporan resmi, perusahaan mengumumkan kerugian bersih sebesar JPY9.6 miliar (USD85.4 juta) dibandingkan dengan laba JPY1.64 miliar pada Q3 2017. Margin operasi pada dua segmen bisnis utamanya turun menjadi 13,4 persen dari 27,1 persen pada Q3 2017.

Pendapatan naik 16,9 persen tahun-ke-tahun menjadi JPY51,9 miliar, tetapi penjualan pada bisnis konten dan komunikasi inti turun 2,1 persen menjadi JPY17,7 miliar. Segmen ini, yang menyumbang 34 persen dari total pendapatan, telah tumbuh datar hingga jatuh selama lima kuartal berturut-turut. Penjualan konten juga tercatat datar di JPY9.9 miliar, sementara pendapatan pesan merosot 8 persen menjadi JPY6.9 miliar.

Tercatat hanya bisnis periklanan yang tumbuh 22,3 persen menjadi JPY26,9 miliar, 52 persen diantaranya merupakan omset konsolidasi. Sejauh ini, sebagai home base, Jepang masih menyumbang 71 persen dari total pendapatan.

Analis ekuitas Jefferies, Atul Goyal, mengatakan dalam sebuah catatan penelitian bahwa sejak Line perlu memperluas paket layanannya, perusahaan yakin biaya akan terus meningkat lebih cepat daripada pendapatan. Tapi, dia mencatat jika itu bisa menjadi platform besar di Taiwan dan Thailand, itu mungkin bisa tumbuh.

Sepanjang Q2-2018, beban pemasaran yang ditanggung Line melonjak 128 persen tahun-ke-tahun menjadi JPY5.78 miliar, dengan sebagian besar dihabiskan di Jepang.

Goyal mengatakan perusahaan tidak memiliki model pendapatan untuk Line Pay, yang bersaing di pasar yang sangat terfragmentasi dengan layanan gratis.

Line memiliki 165 juta pengguna aktif bulanan pada akhir September, turun dari 168 juta pada titik yang sama pada tahun 2017. Kehilangan 13 juta pengguna di Indonesia dari tahun ke tahun mengimbangi keuntungan kecil di Jepang (7 juta), Thailand (2 juta) ) dan Taiwan (1 juta).

Di Indonesia sendiri, meski kehilangan cukup banyak pengguna, popularitas Line sejauh ini masih terbilang baik, khususnya di kalangan milenial. Alasan terdapat sticker yang jenaka, bervariasi dan komunikatif, menjadi nilai lebih yang dimiliki Line dibandingkan platform messaging lain, seperti WhatsApp yang cenderung lebih banyak digunakankan kalangan dewasa dan perkantoran.

Selain fitur chating dan hiburan, Line juga semakin berkembang mengikuti market. Dengan menambahkan tautan news dan grup berjualan.

Belum lama ini, Line mengumumkan peluncuran T-Go di Indonesia, sebuah aplikasi mobile acara kuis trivia live. T-Go menawarkan format baru untuk industri hiburan di mobile yang memungkinkan pengguna berkompetisi dalam kuis yang ditayangkan secara langsung dengan hadiah berupa uang tunai.

Saat ini T-Go telah tersedia untuk diunduh di perangkat pengguna. Belum lama ini, Line memilih Indonesia sebagai pasar pertama guna merasakan serunya bermain T-Go karena Indonesia didominasi oleh para milenial muda tech savvy dan tertarik untuk mencoba teknologi baru.