India dikenal sebagai pasar di dunia setelah Cina. Namun, persaingan yang membuat ARPU menurun drastis, telah membuat sebagian besar kinerja operator di negeri Hindustan itu berdarah-darah. Alhasil, opsi merger dan akusisi menjadi tak terelakan.

Advertisement

Pemain termasuk Bharti Airtel, sang pemimpin pasar, melakukan transaksi dengan melakukan salah satu rival terdekatnya, Telenor. Penawaran pengambilalihan terhadap Telenor, resmi terbit Bharti pada Februari 2017.

Lebih banyak waktu, proses akhir ujung ujungnya. Pada Selasa (15/5/2018), Harian India terkemuka The Economic Times (ET) melaporkan, hak telekomunikasi India telah menerima persetujuan akhir, membuat sang pemimpin pasar itu dapat memperluas basis pelanggannya dan yang lebih penting bagi semua yang sebelumnya memiliki Telenor India.

Kementerian Telekomunikasi India (DoT) telah mengeluarkan informasi dan lisensi untuk 4G Telenor India, bersama dengan seluruh kewajibannya kepada Airtel. Saat ini Telenor yang berbasis di Norwegia memiliki kavling spektrum seluas 43,4MHz di 1.800 MHz.

Airtel mengatakan bahwa pihaknya menerima semua persetujuan dan langkah selanjutnya adalah memulai operasi Telenor India di tujuh wilayah layanan.

Dalam sebuah tweet, CEO Telenor Sigve Brekke menegaskan, bahwa transaksi untuk mentransfer kepemilikan Telenor India ke Airtel secara resmi selesai, pasca rampunya persetujuan pengaturan.

Ketentuan tersebut berlaku untuk beberapa bulan yang dikeluarkan oleh Departemen Pertahanan untuk menetapkan Airtel memberikansuatu bank sebesar INR15 miliar ($ 222 juta) sebagai syarat untuk film tawaran pasar.

Untuk membayar, DoT melayani Airtel memberikan yang bank yang sama dengan biaya satu kali untuk spektrum yang pembayaran dan pembayaran lebih dari INR2 miliar untuk pembayaran tangguhan untuk spektrum yang dihutang oleh Telenor India.

Namun Penyelesaian Sengketa Telekomunikasi dan Pengadilan Banding berubah mengecilkan permintaan. Airtel pada akhirnya setuju untuk membayar INR2 miliar untuk seluruh spektrum Telenor.

Intelijen GSMA mengungkapkan, dengan akusisi tersebut Bharti Airtel akan mengambil alih 38 juta sambungan seluler Telenor India, totalnya menjadi sebesar 290 juta sambungan dan contoh pasarnya menjadi 28 persen (naik dari 25 persen saat ini).

Di sisi lain, keberhasilan memasukan Airtel tidak sepenuhnya mampu menyerap 1.200 pekerja Telenor India. Sejauh ini, perwakilan Airtel mengatakan bahwa pihaknya hanya mampu menampung 700 karyawan. Rencana untuk karyawan yang akan dikomunikasikan pada waktunya. Menyatakan melalui sebuah sumber kepada ET.

Keberhasilan dari ini dapat meningkatkan kemampuan Bharti Airtel untuk bersaing dengan Reliance Jio. Meskipun merupakan operator terakhir yang meluncurkan layanan 4G nasional pada bulan September 2016, Reliance telah mengeluarkan data dan paket data gratis dan berbiaya rendah.

Airtel melaporkan penurunan laba sebesar 77,8 persen dalam Q4 fiskal 2017 hingga INR830 juta, dengan pendapatan jatuh 10,5 persen menjadi INR196,34 miliar dari INR219,35 miliar.

Proses rampungnya Telenor oleh Bharti Airtel, mendahului Proyek merger antara dua operator lainnya, yaitu Vodafone dan Idea Cellular. Penggabungan baik dipastikan akan menciptakan pemimpin pasar baru di India. Saat ini proses penggabungan telah memasuki tahap akhir dari proses persetujuan.

Sekretaris Kementerian Telecomunikasi India Aruna Sundararajan mengatakan, bahwa pada akhir Maret lalu pihaknya telah mempercepat proses merger. Kini satu-satunya hambatan keluar adalah status izin oleh Badan Investasi Asing dan Departemen Lisensi.

Baik Vodafone Group dan induk usaha Idea, Aditya Birla Group, telah bertekad untuk menyelesaikan transaksi pada menit pertama tahun ini.