Rahasia Apple Patahkan Kutukan Dead Ringer

Sabtu, 10 Mar 2018 | 08:40 Author By

Dihadapkan pada kompetisi ketat dan life cycle yang terbilang pendek, pada setiap masa, setiap vendor pasti akan mengalami masa-masa sulit. Begitu pun dengan Apple. Meski menyandang predikat sebagai pemain kunci di bisnis komputasi global, khususnya tablet dan smartphone, perusahaan yang berbasis di Cupertino, California, itu juga pernah merasakan pil pahit.

Tengok saja, sepanjang 2016, vendor dengan logo buah apel tergigit itu, mengalami penurunan penjualan tahunan yang pertama sejak 2001. Tahun ketika perusahaan teknologi tersebut meluncurkan iPod dan memulai pembuatan serangkaian produk yang mampu mengguncang pasar.

Advertisement

Di tahun fiskal 2016 yang berakhir pada 30 September, penjualan Apple anjlok menjadi hanya USD 216 miliar, dari rekor penjualan USD 234 miliar pada 2015.

Penurunan itu terutama disebabkan oleh rontoknya permintaan terhadap iPhone, yang masih menjadi tulang punggung pendapatan Apple. Tercatat, pada kuartal terakhir 2016, Apple hanya mampu menjual 45.5 juta unit iPhone, turun dari 48 juta unit di kuartal yang sama 2015.

Alhasil, Apple hanya mengantungi laba USD 10,52 miliar atau setara Rp 138,4 triliun. Berbanding terbalik dengan keuntungan yang mencapai USD 13,57 miliar atau sekitar Rp 178,5 triliun di periode sebelumnya.

Saat itu, para analis menduga pasar global smartphone sudah jenuh dan para konsumen menunggu lebih lama untuk mengganti ponsel mereka. Selain itu, beberapa model iPhone disebut sangat mirip (dead ringer) dibandingkan dua model sebelumnya, sehingga tidak terlalu menggugah hasrat pengguna untuk melakukan upgrade.

Sepanjang 2016, penjualan Apple di berbagai pasar utama dunia melesu, termasuk di China. Sebelumnya CEO Apple Tim Cook sangat berharap permintaan di negeri Tirai Bambu itu akan terus tumbuh meski perusahaan menghadapi persaingan yang semakin ketat dengan vendor-vendor lokal.

Sayangnya target tersebut jauh dari kenyataan. Permintaan justru anjlok hingga 30%. Kompetisi yang sengit dengan merk-merek lokal seperti Oppo, Vivo, Xiaomi dan Huawei, semakin menggerus pangsa pasar Apple di China.

Menghadapi tren penurunan, tentu saja petinggi Apple harus beralibi. Tim Cook berkilah bahwa hal ini tak lepas dari dampak penguatan dollar. Harga produk Apple melambung tinggi di pasaran global, membuat permintaan pasar menjadi melemah.  Alhasil, setelah delapan tahun melalang buana (iPhone pertama dirilis 2007) dengan pertumbuhan penjualan yang memuaskan, pada akhirnya iPhone menemui titik jatuh.

“Ini adalah rintangan yang sulit, tapi tak akan mengubah apa pun di masa mendatang. Masa depan sangat bersinar,” kata Tim Cook.

Win Back

Sikap optimis Tim Cook memang tidak sekedar pernyataan normatif, demi menenangkan hati investor yang mulai galau dengan performa Apple. Faktanya, setelah keterpurukan di 2016, peruntungan Apple berubah 180 derajat pada akhir 2017.

Laporan yang dikeluarkan oleh berbagai lembaga riset, serta paparan analis memperlihatkan kinerja Apple kembali kinclong. Tengok saja laporan yang dikeluarkan Strategy Analytics.

Lembaga riset terkemuka itu mengungkapkan bahwa Apple meraih lebih banyak pendapatan di Q4 2017 daripada gabungan pesaingnya, bahkan saat jumlah pemain di industri naik ke level tertinggi sepanjang masa sebesar USD 120,2 miliar.

Apple mencatat penjualan yang jauh melesat dengan 51 persen kenaikan pendapatan smartphone global atau sebesar USD 61,4 miliar.

Direktur Strategy Analytics Neil Mawston, menyebutkan bahwa rekor pendapatan tersebut tak lepas dari permintaan yang tinggi terhadap iPhone X. Smartphone premium ini menawarkan harga jual rata-rata hampir tiga kali lebih tinggi dari industri.

Selama penghitungan pendapatan baru-baru ini, Apple melaporkan bahwa average selling price (ASP) iPhone tumbuh lebih dari USD 100 per tahun menjadi USD 796 di kuartal ini.

Pencapaian yang signifikan tersebut mendorong Mawston untuk memberi label pada Apple iPhone sebagai “mesin pembuat uang yang luar biasa”.

Sebagai perbandingan, vendor besar lain di pasar smartphone, termasuk pesaing utama Samsung dan Huawei, hanya menghasilkan pendapatan sebesar USD 58,8 miliar kolektif selama kuartal keempat.

Samsung berada di posisi kedua dengan pendapatan USD18,9 miliar dan Huawei ketiga sebesar USD8,4 miliar. Berbeda dengan Apple, ASP Samsung dan Huawei tetap di bawah USD 300, masing-masing USD254 dan USD205.

Sebelumnya laporan yang dikeluarkan Kantar Worldpanel mengungkapkan, bahwa iPhone X berhasil masuk ke dalam tiga smartphone terlaris pada musim liburan, yakni Desember 2017 di semua wilayah utama. Yakni Eropa, Jepang, Australia, Amerika Serikat, dan China.

Khusus di China, pertumbuhan Apple di negeri Tirai Bambu itu terbilang di luar dugaan. Setelah dipecundangi oleh pemain baru seperti Xiaomi, tercatat pangsa penjualan iPhone tumbuh dari 24,3 persen pada September-November menjadi 28,6 persen pada Oktober-Desember 2017.

Alhasil, sepanjang Q4-2017, Apple mampu menjual 13 juta unit iPhone di China, menggusur Xiaomi yang kini terlempar dari posisi Lima Besar. Pencapaian itu kembali mendudukkan iPhone sebagai smartphone pilihan di pasar yang tak hanya terbesar, namun juga paling kompetitif di seluruh dunia.

FaceID dan Harga Selangit

Tak dapat dipungkiri, Apple secara jeli menjadikan iPhone X sebagai lini yang benar-benar beda dari sebelumnya. Selain untuk mengungguli para pesaing, produk ini sekaligus menjadi jawaban Apple terhadap kutukan dead ringer yang sebelumnya dilontarkan para analis.

iPhone X hadir dengan bezzel-less, yang berarti perangkat ini hadir nyaris tanpa bingkai. Selain desain yang unik, iPhone X memiliki spesifikasi lebih mumpuni lagi ketimbang kedua perangkat Apple lainnya.

Dengan banderol harga minimal Rp 18 juta, Apple memang harus memasang pemikat terbaik diperangkat iPhone X untuk menembus target penjualan. Apalagi dengan dihapusnya tombol home yang menjadi ciri khas iPhone, sempat membuat keraguan akan kesuksesan iPhone X. Tapi ternyata, peminat iPhone X justru menguat sejak awal perilisan dan belum goyah hingga saat ini.

Dari sebuah laporan penelitian yang dilakukan oleh Consumer Strategy Analytics (CSA), diketahui bahwa ternyata kamera menjadi faktor utama konsumen membeli iPhone X. Lebih spesifik, CSA menyebut kamera depan yang menjadi landasan Face ID dan Animoji, menjadi fitur yang paling diminati konsumen.

Kamera adalah faktor utama di balik respon positif konsumen (terhadap iPhone X). Kamera depan yang menempatkan fitur keamanan andalan Apple yakni Face ID, menjadi kunci sekaligus menjadi pembeda di pasaran. Begitu tulis CSA dalam laporan berjudul Early Buyer Sentiment : iPhone X Consumer Sentiment High for Camera, Display, and Face ID.

Di awal perkenalan Face ID, banyak muncul kekhawatiran terkait penggunaannya. Namun ternyata, Face ID iPhone X bisa bekerja sesuai dengan yang dipublikasikan .

Dengan kesuksesan tersebut, iPhone X diperkirakan akan membantu Apple menembus rekor pejualan di 2018. Hal ini diprediksi oleh perusahaan jasa keuangan global, Morgan Stanley yang mengatakan bahwa penjualan iPhone pada tahun ini bisa menembus angka 262 juta unit.

Jika itu terjadi, maka iPhone akan menumbangkan rekor penjualan sebesar 231,2 juta unit yang diraih pada 2015.

Mampukah Apple mencatat rekor baru? Kita tunggu saja.

Terkait