Produsen pelindung layar Gorilla Glass, Corning, baru saja mengeluarkan laporan hasil keuangan Q4 2017 dan setahun penuh. Laporan itu menunjukkan adanya peningkatan volume penjualan tapi perusahaan mencatatkan kerugian.

Advertisement

Secara tahunan, perusahaan mengindikasikan adanya kenaikan pendapatan, dari USD9,39 miliar (Rp126 Triliun) pada tahun 2016 menjadi USD10,11 miliar (Rp136 Triliun) pada tahun 2017.

Meski demikian, Corning masih mengalami kerugian sebesar USD497 juta (setara Rp6,7 Triliun), jauh lebih buruk dari tahun 2016, ketika perusahaan meraup laba sebesar USD3.695 miliar (Rp50 Triliun).

Alasan di belakang defisit keuangan itu cukup mudah dijelaskan. Tahun lalu, perusahaan menginvestasikan modalnya di 23 proyek, termasuk pembangunan 11 pabrik, yang diharapkan bisa menghasilkan keuntungan di semester pertama 2018 ini.

Di sisi lain, perusahaan memiliki Q4 2017 yang cukup baik, dengan pendapatan diperkirakan mencapai USD2.637 miliar (Rp35 triliun), lebih kuat daripada Q3 2017 (USD2.607 miliar) dan Q4 2016 (USD2,476 miliar/Rp33 triliun).

Dari lima departemen bisnisnya, pendapatan terbesar Corning di tahun ini adalah Display Technologies and Optical Communications (USD928 dan USD745 juta), sedangkan Life Sciences menghasilkan sedikit pendapatan perusahaan (USD225 juta).

Satu hal yang perlu disorot adalah adanya peningkatan finansial yang besar di bagian Special Materials (mencakup produk Gorilla Glass) naik sebanyak 25% di Q4 2017 dibandingkan dengan Q3.

Menurut perusahaan, kenaikan itu terjadi berkat maraknya adopsi Gorilla Glass pada bagian belakang perangkat.

Melalui laporan itu, perusahaan mengaku menikmati apa yang dicapainya sepanjang tahun 2017. Wendell P. Weeks, CEO, presiden, dan chairman Corning, mengatakan, “Pertumbuhan yang kuat dan investasi yang kuat membuat tahun 2017 merupakan tahun yang luar biasa.”

“Kami keluar dari tahun berjalan dengan kapasitas penuh di beberapa bisnis kami dan dengan permintaan pelanggan yang mendukung inisiatif ekspansi kapasitas saat ini. Kami berharap akan mendapat manfaat dari inisiatif ini di paruh kedua tahun 2018 dan seterusnya sebagai jalur produksi.”